Badan Antariksa Amerika Serikat (National Aeronautics and Space
Administration/NASA) sedang mencari cara untuk membersihkan ruang
angkasa dari ancaman peningkatan sampah antariksa. Seorang astrofisikawan dari kantor Environmental
Effect NASA, Donald Kessler, mengatakan industri antariksa secara perlahan
mengembangkan ide untuk membersihkan sampah antariksa itu, namun belum pernah
ada yang diuji.
Sampah antariksa berasal dari asteroid-asteroid,
komet, meteorit dan juga peralatan ruang angkasa yang dibuat manusia maupun
bagian lainnya. Satelit "mati" adalah salah satu contoh dari sampah
antariksa yang mengancam fungsi satelit dan stasiun ruang angkasa
internasional. Kessler, yang merupakan kepala program
penanganan sampah antariksa yang pertama di NASA, mengatakan bahwa ada tiga isu
utama yang harus diselesaikan berkaitan dengan pembersihan sampah antariksa.
"Satu, bagaimana kita bisa mendapatkan
sampah itu secara murah? Dua, bagaimana kami mengambil objek yang berputar dan
tidak dirancang untuk bisa diambil? Ketiga, apa yang akan dilakukan setelah
kita mengambilnya?" ujar Kessler kepada kantor berita Xinhua. Fakta lain yang juga menjadi pertimbangan adalah
lambannya astrofisikawan dan ilmuwan membahas persoalan itu dan bahwa NASA
tidak setiap tahun bisa menggunakan dana dari pemerintah untuk melakukan
penelitian dan melakukan pembersihan sampah antariksa. Perhatian internasional untuk membersihkan
sampah antariksa meningkat sejak beberapa tahun terakhir, terutama sejak
Februari 2009, saat dua satelit buatan bertabrakan sekitar 490 mil (790 km) di
atas Siberia dan menghasilkan 1.000 keping sampah antariksa.
Kessler yang juga dikenal sebagai pencipta
"Kessler Syndrome" percaya bahwa meningkatnya frekuensi tumbukan
sampah antariksa akan menciptakan "jalur permanen dari sampah
angkasa" yang begitu tebalnya dan berbahaya pada saat peluncuran roket
atau satelit. Dua ide yang mungkin dilakukan untuk
membersihkan sampah ruang angkasa adalah menggunakan laser yang sangat kuat,
yang bisa mendorong sampah ke orbit yang lebih rendah untuk dibakar, serta
pembuatan jaring matrik untuk menangkap sampah antariksa itu. Meski demikian, menurut Kessler, tidak ada satu
konsep pun yang bisa menjadi solusi total atas masalah ini, bahkan jika konsep
itu bekerja sesuai rencana sekalipun. Sejumlah perusahaan di Amerika Utara bekerja di
beberapa proyek pembersihan sampah antariksa, salah satunya Star Technology and
Reseach (STAR) di Mount Pleasant, South Carolina.
Baru-baru ini STAR menerima hampir dua juta
dolar AS dari NASA untuk membuat pesawat luar angkasa ElctroDynamic Debris
Eliminator (EDDE) yang akan bekerja membersihkan sampah antariksa. "EDDE akan beroperasi di medan magnet bumi
seperti layaknya kapal yang berlayar karena angin, akan memberikan jangkauan
tak terbatas dengan menggunakan tenaga matahari. Ini merupakan terobosan
teknologi yang memungkinkan dihilangkannya semua obyek besar dan berbahaya di
orbit bumi yang rendah," ujar Juru Bicara STAR Jerome Pearson.
EDDE didesain untuk "berlayar" ke
satelit yang sudah tak beroperasi menggunakan tenaga surya kemudian
mengeluarkan jaring besar untuk menangkap satelit yang ditargetkan, dan turun
ke orbit yang lebih rendah.
Pesawat itu kemudian akan menyemburkan satelit
atmosfer bumi sehingga terbakar dan kemudian berlayar lagi ke orbit yang lebih
tinggi untuk menangkap satelit yang sudah tak beroperasi. Lebih dari 2.000 ton sampah antariksa mendekati
orbit bumi di bawah ketinggian 2.000 kilometer. EDDE dapat menangkap dan
membuat satelit angkasa besar yang telah "mati", kata Pearson. Menurut dia, seluruh pihak yang
meluncurkan satelit internasional harus bertanggung jawab membersihkan sampah
antariksa








0 komentar:
Posting Komentar